Ketua MPR Mendorong Soliditas Bangsa Melalui Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di LDII Kebumen

Kebumen (20/1) – Dalam upaya untuk memperkuat soliditas bangsa melalui pemahaman terhadap wawasan kebangsaan, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, atau yang akrab disapa Bamsoet, mengadakan sosialisasi “Empat Pilar Kebangsaan” di hadapan warga LDII Kebumen. Acara ini dihadiri oleh Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Singgih Tri Sulistiyono, serta jajaran DPD LDII Kabupaten Kebumen.

Bamsoet menyampaikan pesan penting tentang arti soliditas kebangsaan dalam konteks keberagaman Indonesia. Ia menekankan bahwa keberagaman Indonesia, yang sangat majemuk dan heterogen, membutuhkan pemahaman wawasan kebangsaan yang mendalam. Menurutnya, tanpa wawasan kebangsaan yang memadai, bangsa Indonesia bisa mudah terpecah belah.

“Hal ini penting mengingat Indonesia merupakan bangsa yang sangat majemuk dan heterogen. Tanpa wawasan kebangsaan yang memadai, bangsa Indonesia tidak akan memiliki soliditas kebangsaan, sehingga akan mudah tercerai-berai,” ungkap Bamsoet.

Dalam konteks penyelenggaraan pemilu serentak, Bamsoet menyoroti pentingnya anggaran yang besar sebanding dengan penyelenggaraan yang jujur, adil, dan berkualitas. Ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kedewasaan politik agar pemilu tidak meninggalkan persoalan yang merugikan dan tidak memicu polarisasi yang dapat berujung pada konflik horizontal.

Sosialisasi “Empat Pilar Kebangsaan” bukan hanya sebagai forum untuk memahami konsep kebangsaan, tetapi juga sebagai panggilan untuk bersama-sama menjaga soliditas bangsa. Dalam konteks ini, partisipasi aktif warga LDII Kebumen dan masyarakat umum diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam membangun persatuan dan menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.

Menanggapi itu, Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Singgih Tri Sulistiyono, yang juga seorang Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, mengungkapkan pandangannya tentang keberagaman dan persatuan dalam konteks kebangsaan.

Singgih Tri Sulistiyono memberikan sorotan terhadap narasi-narasi yang digunakan pada masa awal kemerdekaan. Ia mencontohkan narasi romantis seperti “Atas dasar rasa senasib sepenanggungan, maka kita siap berjuang,” yang pada zamannya berhasil memunculkan rasa persatuan. Namun, Singgih menilai bahwa jika narasi semacam itu disampaikan kepada masyarakat saat ini, kemungkinan besar tidak akan efektif dalam membangun persatuan.

“Dalam realitas sekarang, narasi-narasi romantis tersebut sepertinya tidak mempan lagi untuk mempersatukan kita,” ujar Singgih Tri Sulistiyono. Menurutnya, masyarakat modern cenderung memerlukan pendekatan yang lebih kontekstual dan relevan dengan kondisi zaman.

Lebih lanjut, Singgih Tri Sulistiyono menekankan bahwa pembicaraan tentang nasionalisme hari ini harus diwujudkan dengan merealisasikan cita-cita yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Cita-cita tersebut mencakup perlindungan terhadap segenap bangsa Indonesia, peningkatan kesejahteraan umum, serta pembangunan kehidupan bangsa yang cerdas dan harmonis.

“Saat ini, kita perlu menyesuaikan diri dengan kondisi zaman. Melihat keberagaman sebagai kekayaan dan menjalankan prinsip-prinsip kebangsaan untuk menciptakan persatuan yang kokoh,” tambahnya di depan 200 anggota LDII se-Kabupaten Kebumen.

Dengan pandangannya yang mendalam tentang sejarah dan keberagaman bangsa, Singgih Tri Sulistiyono memberikan kontribusi berharga dalam merespons perubahan zaman serta membangun kesadaran akan pentingnya persatuan dalam keragaman. Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dihadiri oleh warga LDII Kebumen menjadi forum penting untuk menyampaikan pesan tersebut dan memperkuat semangat kebangsaan di tengah tantangan zaman modern.

Dita Lines

Learn More →

Leave a Reply