Ketua Umum DPP LDII Dorong Indonesia Bersaing Global dengan Integritas

Jakarta (9/12). Meskipun Reformasi 1998 menjanjikan perubahan dan perlawanan terhadap korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), nyatanya, kendala tersebut masih merajalela di pembangunan nasional. Seiring peringatan Hari Antikorupsi Sedunia pada Sabtu (9/12), Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menekankan bahwa kejujuran bukan hanya sebagai nilai moral, tetapi juga sebagai kunci daya tarik investasi global.

KH Chriswanto mengaitkan upaya Uni Eropa yang kesulitan menerima Ukraina sebagai anggota baru. Berdasarkan data dari Transparency.org data tersebut sejak 2012 hingga 2022, Indeks Persepsi Korupsi (CPI) Ukraina relatif rendah. Pada 2013 dengan skor 25, lalu membaik pada 2022 dengan skor 33. Rangking tersebut menempatkan Ukraina pada posisi 116 dari 180 negara yang terdaftar.

Investor internasional cenderung enggan menanamkan modalnya di negara dengan tingkat korupsi tinggi. Indonesia, dengan skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 34 pada 2022, menjadi negara terkorup ke-5 di Asia Tenggara. KH Chriswanto mengingatkan bahwa komunitas bisnis internasional tidak hanya mencari keuntungan finansial, tetapi juga mempertimbangkan moralitas negara tujuan investasi.

Akibatnya, investor asing mengalihkan modalnya ke negara-negara tetangga Indonesia yang korupsinya lebih rendah. Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia, “Kita harus berjuang keras. Korupsi bukan hanya merugikan pembangunan nasional namun juga mengurangi kepercayaan dunia internasional. Kejujuran merupakan standar moral yang tinggi, sementara korupsi merendahkan martabat sebagai bangsa,” tuturnya.

Menurut KH Chriswanto, pemberantasan korupsi memerlukan contoh positif dari pejabat publik di semua tingkatan. Ironisnya, berita terus mencatat kasus korupsi, termasuk pejabat KPK yang menjadi tersangka, hingga dana desa yang seharusnya digunakan untuk pembangunan juga tidak luput dari korupsi, dengan Rp 433,8 miliar yang hilang selama periode 2015-2021.

Dalam menghadapi tantangan ini, KH Chriswanto mengajak bangsa Indonesia untuk menjaga tekad dalam memberantas korupsi, mengingat lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah Reformasi 1998. Menurutnya, pemberantasan korupsi bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga untuk mendapatkan dukungan positif dari komunitas internasional.

Dita Lines

Learn More →

Leave a Reply