Surabaya (17/1). Menjelang pergantian tahun 2026, Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso mengajak seluruh elemen bangsa melakukan muhasabah atas perjalanan Indonesia yang telah memasuki usia ke-81 tahun. Menurutnya, dinamika nasional dan global menuntut pemerintah dan rakyat untuk terus melakukan evaluasi agar tetap sejalan dengan cita-cita luhur berdirinya negara-bangsa Indonesia.
KH Chriswanto menilai Indonesia sebagai negara demokrasi berpenduduk mayoritas muslim tidak lepas dari tantangan residu demokrasi, termasuk keberadaan kelompok kepentingan dan potensi dominasi oligarki. “Dalam demokrasi, sangat memungkinkan sekelompok kecil orang menguasai sebagian besar masyarakat dan sumber daya. Namun negara yang kuat dan mengedepankan keadilan sosial akan mampu membawa bangsanya maju, bukan tunduk pada investor,” ujarnya.
Ia juga menyoroti persoalan lingkungan sebagai pekerjaan rumah besar. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan RI tahun 2024, setidaknya 175 ribu hektare hutan mengalami deforestasi sejak era Orde Baru hingga Reformasi, bergeser menjadi perkebunan sawit dan area tambang. Menurutnya, kerusakan tersebut merupakan dampak dari investasi yang tidak terkontrol dan perlu menjadi bahan renungan nasional.
KH Chriswanto mengingatkan bangsa ini agar belajar dari sejarah peradaban besar dunia yang pernah berjaya namun runtuh, seperti Mesopotamia, Mesir Kuno, Lembah Indus, Cina Kuno, Yunani, Romawi, dan Persia. “Peradaban-peradaban itu unggul dalam teknologi pada masanya, namun kemerosotan moral menjadi pemicu kehancuran. Kini hanya sisa bangunan yang menjadi pelajaran,” tegasnya.
Menurutnya, berbagai persoalan kebangsaan itu akan dibahas dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) X LDII pada pertengahan 2026. “Kami akan menggodok masukan untuk pemerintah terkait isu-isu terkini, yang hasilnya akan dituangkan dalam program kerja dan rekomendasi,” jelasnya.
KH Chriswanto menambahkan bahwa LDII terus membina generasi muda sebagai bagian dari upaya membangun peradaban bermoral menuju Indonesia Emas 2045. Salah satu langkah konkret adalah penyelenggaraan Pengajian Akhir Tahun yang sudah digelar sejak 1990-an. Kegiatan ini melibatkan generasi muda dalam aktivitas mengaji, diskusi, nasihat, seni, hingga pencak silat. Tahun ini, LDII juga mendorong penanaman pohon di setiap lokasi pengajian.
Melalui kegiatan tersebut, LDII berharap generasi muda terhindar dari perilaku negatif seperti hura-hura, hedonisme, dan kegiatan maksiat menjelang pergantian tahun. “Kami mengajak ulama, pamong, guru, muballigh dan orang tua untuk mendukung generasi muda mengikuti kegiatan positif. Ini langkah memperkuat moral generasi penerus bangsa agar semakin beriman, bertakwa, dan berkarakter,” tutup KH Chriswanto.
