Jakarta (31/5) — Ibadah kurban memiliki dimensi luas, tak hanya sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT, tetapi juga sebagai kekuatan sosial dan penggerak ekonomi umat. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), KH Chriswanto Santoso, dalam seruannya kepada umat Islam untuk terus meningkatkan semangat berkurban.
Dalam keterangannya, KH Chriswanto menekankan bahwa semangat berkurban harus terus dibangun, khususnya di kalangan warga LDII. “Kurban bukan hanya sekadar ritual tahunan. Ia merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai keikhlasan, ketakwaan, dan kepedulian terhadap sesama,” tuturnya.
KH Chriswanto juga mengingatkan bahwa kurban merupakan simbol dari kesalehan individu yang berdampak langsung pada masyarakat. Daging kurban yang dibagikan bukan hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga berperan dalam peningkatan asupan gizi dan mendukung upaya pemerintah dalam penanggulangan stunting.
Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa pelaksanaan kurban mampu menggerakkan roda ekonomi, terutama di sektor peternakan. “Kondisi ekonomi yang lesu saat ini bisa terbantu dari aktivitas kurban. Peternak, pedagang, dan pihak-pihak yang terlibat dalam distribusi hewan kurban mendapat manfaat ekonomi secara langsung,” jelasnya.
Sebagai bentuk keseriusan, LDII mengangkat tema “Ikhlas Berkurban, Ikhlas Berbagi” untuk Idul Adha tahun ini. Tema tersebut mendorong umat Islam untuk menjadikan kurban sebagai bagian dari gaya hidup sosial yang berbasis pada nilai keikhlasan.
Dalam praktiknya, LDII memiliki pendekatan khas, yakni sistem tabungan kurban yang ditawarkan kepada warga melalui pengajian-pengajian rutin. Metode ini telah terbukti efektif meningkatkan partisipasi warga dalam berkurban.
Data yang dihimpun DPP LDII menunjukkan tren peningkatan jumlah hewan kurban dari tahun ke tahun. Tercatat, pada tahun 2021 sebanyak 39.301 ekor hewan kurban disembelih warga LDII, meningkat menjadi 42.646 ekor di tahun 2022, 47.341 ekor pada 2023, dan pada tahun 2024 mencapai 50.460 ekor.
“Kami berharap tren positif ini berlanjut dan meningkat 10-20 persen pada 2025. Ini menunjukkan keimanan yang terus bertumbuh dan komitmen warga terhadap nilai-nilai sosial,” pungkas KH Chriswanto.
