Lines (14/5) — Kabupaten Blora didorong menjadi pusat pengembangan sorgum nasional setelah sukses melaksanakan panen benih sorgum tersertifikasi di lahan Kelompok Tani Barokah, Dukuh Gelam, Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, pada Minggu pagi (11/5). Kegiatan ini merupakan hasil inisiasi warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) sebagai bagian dari upaya mendukung diversifikasi pangan nasional.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, hadir langsung dalam panen tersebut bersama Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso dan Bupati Blora, Arief Rohman. Dalam sambutannya, Yandri menyampaikan apresiasinya atas sinergi antara LDII dan Pemerintah Kabupaten Blora dalam mengembangkan komoditas sorgum.

“Sorgum ini punya potensi besar sebagai bahan pangan alternatif masa depan. Selain bernilai ekonomi tinggi bagi petani, saya setuju jika Blora dijadikan pusat pengembangan sorgum nasional, baik untuk konsumsi maupun pembenihan unggul,” ungkap Yandri.
Ia juga menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan sorgum melalui koordinasi lintas kementerian di bawah Kemenko Perekonomian. Menurutnya, benih sorgum asal Blora yang telah tersertifikasi perlu didaftarkan hak patennya agar dapat dikenal luas hingga ke pasar internasional.
Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menjelaskan bahwa program pengembangan sorgum ini merupakan wujud nyata kontribusi LDII terhadap ketahanan pangan nasional. “Kami memilih Blora karena kondisi tanahnya sangat cocok untuk sorgum, dan kepala daerahnya juga sangat mendukung,” ujarnya.
Lahan yang dipanen seluas 0,5 hektare ditanami varietas sorgum Super-1 sejak 17 Januari 2025. Panen kali ini difokuskan untuk benih, bukan konsumsi, karena tanaman sorgum dapat dipanen hingga tiga kali dari satu kali tanam. Menurut Chriswanto, hasil panen juga telah diminati petani dari Ngawi dan Wonogiri.
LDII juga mengambil peran sebagai pendamping petani sekaligus off taker untuk menjamin keberlanjutan rantai penjualan hasil panen. Bahkan, LDII berencana menyampaikan langsung kepada Presiden RI agar pengembangan sorgum masuk dalam agenda nasional, termasuk dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif untuk pengembangan produk turunannya.
“Petani butuh kepastian. Kalau tidak ada yang membeli, siapa yang mau tanam? Karena itu, kami siap bantu penyaluran hasil panen dan mendorong pengembangan produk olahan sorgum,” imbuhnya.
Bupati Blora, Arief Rohman, menyampaikan apresiasi atas langkah LDII yang dinilai sejalan dengan visi Blora sebagai lumbung pangan Jawa Tengah. Ia menilai sorgum memiliki keunggulan tidak hanya pada bijinya untuk pangan, tetapi juga batangnya yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
“Dengan populasi ternak sapi terbesar di Jawa Tengah, sorgum sangat cocok dikembangkan di Blora. Harapannya, ke depan, luas tanam sorgum terus bertambah dan bersinergi dengan sektor peternakan,” tutur Arief.
Ia juga menegaskan posisi strategis Blora sebagai daerah produsen pangan utama di Jawa Tengah. “Padi kita surplus 70 persen, jagung kita nomor dua setelah Grobogan, dan produksi tebu juga besar. Kini, dengan adanya sorgum, posisi Blora semakin kokoh sebagai sentra pangan nasional,” pungkasnya.
