Kemenhaj dan LDII Ajak Ormas Islam Perkuat Dakwah Ekologis pasca Banjir Sumatra

Jakarta (12/12) – Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mengambil langkah kebijakan khusus bagi calon jemaah haji asal Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pasca bencana banjir besar yang melanda wilayah tersebut. Pemerintah menunda seleksi petugas haji dan memberikan relaksasi pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Selain itu, musibah ini dinilai sebagai momentum bagi ormas Islam untuk memperkuat dakwah ekologis.

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyatakan kebijakan tersebut merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap kondisi darurat yang masih berlangsung.
“Pendaftaran petugas itu ditunda dulu, khusus untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kita ingin memberikan ruang persiapan yang lebih matang untuk daerah terdampak,” ujarnya.

Pelunasan BPIH yang semestinya berakhir 23 Desember 2025 juga diperpanjang bagi calon jemaah yang mengalami kesulitan akibat bencana. Pemerintah ingin memastikan tak ada jamaah haji yang kehilangan kesempatan karena situasi luar kendali mereka.

Dahnil yang memiliki kedekatan personal dengan dua wilayah terdampak—Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah—turut menyalurkan bantuan bersama relawan Matahari Pagi Indonesia. Ia menegaskan bahwa bencana ini harus menjadi peringatan penting soal perawatan lingkungan.
“Harus ada koreksi dari kita. Komitmen merawat alam, hutan, sungai. Saya pikir ormas keagamaan Islam seperti LDII, Muhammadiyah, NU bisa membangun kesadaran jamaah,” katanya.

Ia menambahkan bahwa menjaga lingkungan merupakan fardhu ‘ain atau kewajiban individu bagi setiap umat.

Senada dengan itu, Ketua DPP LDII sekaligus Guru Besar IPB, Prof. Sudarsono, menegaskan pentingnya penguatan dakwah ekologis di tengah meningkatnya bencana hidrometeorologi. Ia menyebut 12,7 juta hektare lahan kritis di Indonesia menuntut upaya pemulihan serius.
“Kalau hari ini kita tidak menanam pepohonan, maka kita hanya akan menanam krisis yang dipanen di masa depan,” ujarnya.

Menurut Sudarsono, pohon memiliki peran vital—menyerap karbon, menghasilkan oksigen, menjaga siklus air, hingga mencegah banjir dan longsor. Karena itu, LDII sejak 2007 menjalankan program Go Green yang telah menanam jutaan pohon di seluruh Indonesia.

Ia juga menyoroti nilai spiritual dan budaya dalam tradisi Nusantara terkait pohon, mulai dari simbol perlindungan hingga ritual adat di Kalimantan dan Papua. “Menanam pohon berarti menjaga hubungan spiritual dengan alam,” imbuhnya.

Komitmen LDII diwujudkan melalui edukasi berkelanjutan di pesantren dan sekolah, serta optimalisasi struktur organisasi hingga tingkat kelurahan. Salah satu pusat kegiatan lingkungan LDII adalah Bumi Perkemahan Cinta Alam Indonesia (CAI) di Wonosalam, Jombang, yang menjadi ruang pembinaan karakter cinta lingkungan bagi generasi muda.

LDII mendorong kolaborasi multipihak—pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat—untuk pemulihan lahan kritis secara berkelanjutan, termasuk melalui insentif ekonomi hijau seperti perdagangan karbon dan ekowisata.

“Menanam pohon adalah tindakan sederhana tetapi berdampak luar biasa. Pohon kecil yang ditanam hari ini bisa menjadi penopang kehidupan bagi anak cucu,” pungkas Sudarsono.

Dita Lines

Learn More →

Leave a Reply